
Oleh : Edi Kusmaya
(Wakil Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Tangerang)
Sampurasuuun !
Pemimpin yang tak berhenti caci sekaligus dicari? Fenomena itu menjelma nyata pada sosok Kang Dedi Mulyadi, KDM. Ia datang membawa riak, mengaduk tenang, sekaligus menawarkan oase. Di satu sisi dihujani kritik, di sisi lain dirindukan langkahnya.
Maka pantaslah kita simak, bandingkan, pikirkan, dan pedulikan: apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada pola kepemimpinan di Tatar Sunda, bahkan bisa jadi di Nusantara.
Pemimpin Tak Akan Dicintai Semua
Hal pertama yang mesti diterima dengan lapang dada adalah kenyataan politik: sebagian besar warga Jawa Barat telah memilih, berharap, dan menentukan KDM sebagai pemimpin, dengan segala keunikannya. Bagi yang tak suka, itu bagian dari napas demokrasi.
Secara fitrah, mustahil seorang pemimpin dicintai seluruh yang dipimpin. Bahkan di zaman Rasulullah pun tidak semua hati terpaut. Di belahan bumi mana pun, suka dan tidak suka adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Maka, membenci KDM karena gayanya adalah hak. Namun menafikan bahwa ia dipilih mayoritas adalah menutup mata pada fakta.
Dari Teori Barat Menuju Akar Padoka Sunda
“Padoka”, Asal kata: Dari bahasa Sunda Kuno “Padika” = patokan, pedoman, aturan dasar hidup. Ada juga yang menyebut “Papagon” = tonggak, tiang, prinsip.
Selama ini, mimbar akademik kita akrab dengan teori kepemimpinan Barat: demokratis, otoriter, kombinasi keduanya. Pola-pola itu yang banyak dianut pemimpin terdahulu.
Yang menarik dari KDM: Ia memvisualisasikan kepemimpinan yang berakar pada filosofi Pandoka, khususnya ajaran Sunda. Ia tidak sibuk mengutip buku impor. Ia menggali sumur sendiri. Dari silih asah, silih asih, silih asuh, dari someah hade ka semah, dari sareundeuk saigel sabobot sapihanean.
Inilah yang patut digarisbawahi: kepemimpinan daerah akan lebih nanceb jika berpijak pada kearifan lokalnya. Untuk Jawa Barat, ya Sunda. Untuk Sumatera, ya Melayu, Minang, Batak. Untuk Papua, ya nilai luhur negerinya sendiri.
Indonesia adalah mozaik. Dibangun oleh kepingan kearifan yang telah tumbuh jauh sebelum budaya Timur Tengah, Eropa, atau bangsa mana pun singgah. Sudah saatnya kita berhenti mendewa-dewakan kultur luar yang belum tentu cocok dengan tanah tempat kita berpijak.
Bukan Pemimpin Karbitan
Jejak Panjang KDM: Melihat KDM tidak bisa dilepaskan dari rekam jejaknya. Ia bukan politikus kemarin sore. Sejak mahasiswa berkecimpung di organisasi. Lalu menjadi anggota dewan, bupati, kembali ke Senayan, hingga kini dipercaya memimpin Jawa Barat.
Pengalaman panjang itu dikombinasikan dengan keberanian merombak hal yang mapan. Ia tak suka bahasa formalistik dan seremonial yang bertele-tele. Ia ganti dengan pola baru: efektif, efisien, langsung menyentuh rakyat. Sat-set kata istilah sekarang.
Tentu, perubahan berpuluh tahun kebiasaan akan melahirkan kegaduhan. Pihak yang kehilangan “lahan basah” pasti keberatan. Pundi-pundi tambahan hilang, jabatan tak lagi nyaman. Maka tak heran jika KDM dibenci sebagian birokrat. Namun tak bergeming: perubahan harus terjadi.
Ia pernah berkata, “Kalau ingin duduk manis di kantor, jangan harap perubahan.” Ia memilih kebijakan tak populer tapi berpihak pada yang banyak, ketimbang kebijakan populer yang meninabobokan semua.
Kritik Bukan Nyinyir, Mendukung Bukan Mendewakan
KDM sendiri terbuka pada kritik. Ia menanggapinya bukan dengan marah, melainkan dengan solusi. Maka kita pun diajak bersikap sama: dukung programnya, tapi jangan berhenti mengkritisi.
Namun bedakan: mengkritisi dengan nyinyir. Kritik berangkat dari cinta agar lebih baik. Nyinyir lahir dari cemburu dan subjektivitas. Masyarakat Jawa Barat kini sudah pandai membedakan keduanya.
Kita tak boleh mendewakan pemimpin. Kesempurnaan hanya milik Allah. Tugas kita adalah melihat sisi positif, sisi yang memberi inspirasi dan motivasi. Bukan menuntut KDM sempurna, melainkan jujur mengakui: pola kepemimpinannya sudah terbukti, sudah teruji, setidaknya bagi konteks Jawa Barat hari ini.
Catatan
Setiap zaman ada pemimpinnya. Setiap masa ada gayanya. Pola KDM mungkin tak bisa ditiru mentah-mentah oleh daerah lain, sebab kultur, pengalaman, dan masyarakatnya berbeda. Namun semangatnya bisa menjadi suluh: kembalilah ke akar.
Lihatlah Jepang, Iran, Amerika. Bangsa maju adalah bangsa yang menghormati, menjunjung tinggi, dan mengaplikasikan nilai budayanya sendiri. Maka catatan sejarahnya jelas: suatu bangsa akan maju apabila kearifan lokal dan budayanya dijadikan fondasi.
Masyarakat Jawa Barat kini diajak bangun dari tidur panjang. Menyejajarkan diri dengan saudara di Nusantara, dengan kepala tegak, membawa kearifan Sundanya sendiri. Di bawah kepemimpinan KDM, kita tak dijanjikan kesempurnaan. Kita ditawari keberanian untuk berubah.
Jika perubahan itu terasa gaduh, ingatlah: diam yang nyaman sering kali adalah kuburan kemajuan. Maka, mari kita kawal dengan nalar, bukan dengan dengki – dengan kritik, bukan dengan caci. Sebab pada akhirnya, dicaci atau dicari, sejarah akan mencatat siapa yang sungguh bekerja untuk rakyatnya.
Semoga tulisan ini menjadi pemantik diskusi, bukan pemutus silaturahmi. Berharap dari Tatar Sunda, lahir inspirasi bagi Nusantara.








