Oleh Dadang Sudrajat
Disampaikan oleh:
Drs. Edi Kusmaya, M.Pd Ketua Divisi Media & Arsip Perpustakaan DKKT (Dewan Kesenian Kab. Tangerang)
1. Identitas Karya
Sebuah buku lahir bukan hanya dari tinta, tetapi dari denyut pengalaman yang enggan dilupakan.
Judul: Menumbuhkan Tunas Pramuka: Kepemimpinan, Kreativitas dan Pengabdian_
Penulis: Dadang Sudrajat
ISBN : 978-634-217-296-4
Editor : Andrianus Yudi Aryanto
Penata Letak & Desain Sampul : @timsenyum
Penerbit : CV Pustaka Media Guru, Anggota IKAPI
Tebal : x + 180 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama : Mei 2026
Alamat : Jl. Dharmawangsa 7/14, Surabaya
Website : www.mediaguru.id
Hak cipta dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, Pasal 72.
Di awal halaman, penulis menitipkan kompas hidupnya:
“Tulislah apa yang sudah kita lakukan – lakukan apa yang sudah kita tulis.”
2. Sang Penulis: Birokrat yang Lebih Kental Pramukanya.
Tidak banyak birokrat yang menyempatkan diri menulis. Di tengah hiruk-pikuk meja kerja dan tumpukan disposisi, Ka Dadang, sapaan akrabnya memilih duduk bersama pena.
Ia lebih kental Pramukanya daripada jabatannya sebagai Camat. Jika boleh meminjam istilah kekinian, personal brandingnya bukan birokrasi, melainkan Pramuka.
Kita sering mendengar alasan klasik: “Sibuk, tidak ada waktu.” Ka Dadang mematahkan kalimat itu dengan satu karya nyata. Ia membuktikan bahwa kesibukan bukanlah kubur bagi gagasan, melainkan ujian apakah gagasan itu cukup berharga untuk diperjuangkan.
3. Nadi Buku: Biografi Segmentaris dalam Bingkai Pramuka.
Jika harus mengkategorikan, buku ini adalah biografi segmentaris. Ia tidak menceritakan seluruh hidup penulis, melainkan menyorot satu alur yang menjadi nyawanya: perjalanan dalam dunia Pramuka.

Yang membuat buku ini hidup adalah cara penulis meramu pengalaman dengan opini, konsep, dan prinsip. Pramuka bukan hanya latar, tetapi lensa. Melalui lensa itu, penulis membedah kepemimpinan, mengasah kreativitas, dan menghidupkan pengabdian.
Sebagai sosok yang menjunjung tinggi senioritas, Ka Dadang memberi ruang hormat bagi para seniornya. Ia menaruh apresiasi bukan hanya pada struktur organisasi, tetapi pada nilai-nilai yang diwariskan. Sebuah sikap yang patut menjadi cermin bagi generasi muda: bahwa hebatnya seseorang terlihat dari cara ia menghormati yang mendahuluinya.
4. Esensi yang Ditawarkan: Edukasi, Motivasi, dan Aksi.
Saya tidak akan membahas apa itu Pramuka di forum ini. Ini bukan kuliah umum. Saya ingin membedah esensi buku ini dari dua sisi: sisi birokrat dan sisi teknik kepenulisan.
Saripati buku ini dapat diringkas dalam tiga kata: *Edukasi, Motivasi, dan Pengabdian*.
Ketiganya tidak berdiri sendiri. Ia dirajut oleh pengalaman empiris penulis, lalu dijalin dalam satu wadah bernama Pramuka.
Mengapa Pramuka?
Karena di sanalah penulis pertama kali jatuh cinta. Cinta yang menggoda hasrat untuk mendalami lebih jauh. Di Pramuka, ia melihat nilai yang sering absen di ruang kelas formal: disiplin yang hidup, kreativitas yang liar namun terarah, kebersamaan tanpa sekat, kemandirian tanpa sombong, toleransi tanpa batas, ketangguhan tanpa mengeluh, dan solidaritas tanpa pamrih.
Pramuka, bagi Ka Dadang, bukan sekadar kegiatan. Ia adalah laboratorium kepemimpinan.
5. Tiga Garis Bawah yang Perlu Dicatat
Izinkan saya menggarisbawahi tiga poin penting dari buku ini:
Pertama, Seni Memimpin dan Dipimpin.
Penulis seringkali berada di kedua posisi itu. Ia memimpin, sekaligus dipimpin. Dari sinilah lahir empati. Seorang pemimpin yang pernah merasakan dipimpin, akan memimpin dengan hati, bukan dengan titah.
Kedua, Belajar dari Para Senior.
“Salah satu cara belajar untuk meningkatkan wawasan dan mempersiapkan masa depan adalah dengan terus belajar, membaca buku, menyelami karya para penulis, serta mengambil pelajaran dari pengalaman dan pemikiran orang lain.”
Bagi Ka Dadang, Pramuka adalah kampus tanpa dinding. Setiap kakak pengurus adalah dosen kehidupan.
Ketiga, Bermain Peran dan Strategi.
Dalam setiap pertempuran, strategi menentukan kemenangan. Bermain peran adalah seni menempatkan diri dengan cantik dan pas. Itu tidak bisa dibeli di toko. Ia hanya lahir dari jam terbang dan pengalaman. Kepemimpinan yang matang adalah kepemimpinan yang ditempa, bukan yang dikarbit.
Bagian testimoni di akhir buku menjadi bumbu yang pas. Ia memberi ruang bagi orang lain untuk bersuara, memberi apresiasi, dan menaruh harapan. Sebuah pengingat bahwa sebuah karya tidak pernah selesai pada penulisnya saja.
6. Catatan untuk Karya Berikutnya.
Sebagai pembedah, izinkan saya menitipkan tiga masukan kecil:
1. Pop-kan Diksinya. Buku ini semi-biografi. Tidak ada salahnya jika gaya bahasa sedikit dilenturkan, diberi sentuhan populer agar lebih ramah dibaca anak muda tanpa kehilangan bobotnya.
2. Perbanyak Ilustrasi. Visual adalah jembatan. Ilustrasi dengan narasi singkat akan membuat buku ini lebih hidup, terutama bagi pembaca muda.
3. Mainkan Alur. Tidak semua cerita harus berjalan linear. Kadang, sebuah anekdot kuat yang ditaruh di awal bisa menjadi pancingan penasaran yang menggiring pembaca menyelam lebih dalam.
7. Menyelami Kata Bertuah Sang Penulis
Di penghujung, mari kita menyelami dua kalimat bertuah yang diselipkan penulis.
Pertama, tentang Mimpi.
“Bermimpi itu dapat diwujudkan jika setiap bagian dari kisahnya dapat dibaca dengan jelas.”
Mimpi bukan kabut. Ia akan menjadi nyata jika kita mampu menguraikannya menjadi adegan-adegan kecil. Mimpi itu seperti naskah film. Sutradara tidak bisa syuting jika naskahnya hanya menulis: “Tokoh utama kaya raya. The End.”
Ia butuh konflik, dialog, lokasi, dan waktu. Begitu pula hidup kita.
Kejelasan melahirkan arah. Arah melahirkan tindakan. Tindakan melahirkan wujud.
Kedua, tentang Alasan dan Langkah.
“Seribu satu alasan kita lakukan untuk tak beranjak dari kondisi saat ini, ketimbang kita mencoba satu alasan untuk maju melangkah. Yakinkan satu langkah ke depan itu berpeluang seribu satu kesempatan.”
Kita jago menciptakan alasan untuk diam. Takut gagal, takut malu, takut capek. Padahal satu alasan untuk maju “Aku tidak mau hidupku begini-begini saja lima tahun ke depan” lebih kuat dari seribu pembenaran.
Satu langkah kecil seperti melempar batu ke danau. Kita tidak pernah tahu berapa riak yang akan muncul. Kesempatan tidak datang kepada yang diam. Ia datang kepada yang bergerak.
8. Penutup
Menumbuhkan Tunas Pramuka_ bukan sekadar buku. Ia adalah napas, catatan perjalanan, dan ajakan.
Ajakan untuk tidak berhenti pada wacana, tetapi melangkah pada aksi.
Buku ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir di ruang AC, melainkan di lapangan, di bawah terik matahari, di tengah tenda dan api unggun. Di sanalah karakter ditempa, kreativitas diuji, dan pengabdian dimaknai.
Terima kasih kepada Ka Dadang, yang telah membuktikan bahwa seorang birokrat pun bisa menjadi penulis, dan seorang Pramuka bisa menjadi pelita bagi banyak orang.
Semoga buku ini tidak berhenti di rak. Semoga ia hidup di tangan, di hati, dan di langkah kita semua.






