KOTA TANGERANG, 21 Maret 2026 – Di saat gema takbir menandai hari kemenangan dan mayoritas masyarakat muslim berkumpul bersama keluarga, Satuan keamanan (Satpam) tetap bersiaga di pos masing-masing. Bagi mereka, Lebaran adalah pembuktian atas komitmen profesi dan wujud nyata perjuangan seorang kepala keluarga dalam menafkahi orang-orang tercinta.
Dudi Haryadi (45), seorang petugas keamanan senior di sebuah kawasan perkantoran Kota Tangerang, adalah satu dari sekian banyak petugas yang melewatkan momen salat Id bersama anak istrinya tahun ini. Baginya, seragam yang dikenakannya membawa tanggung jawab besar yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
“Menjaga keamanan saat semua orang pulang adalah bentuk pengabdian. Ada rasa bangga ketika tempat yang saya jaga tetap aman. Ini bukan sekadar bekerja, tapi menjalankan amanah yang sudah menjadi jalan saya menafkahi keluarga,” ujar Dudi.
Tugas keamanan saat Lebaran menuntut kewaspadaan lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Kondisi lingkungan yang kosong dan sepi memerlukan ketelitian ekstra untuk memastikan setiap sudut area tetap kondusif.
Bagi para petugas ini, motivasi utama mereka bertahan di pos jaga adalah:
– Amanah Profesi: Menjalankan kepercayaan yang telah diberikan oleh pimpinan.
– Stabilitas Keluarga: Memastikan keberlangsungan nafkah bagi istri dan anak di rumah melalui pekerjaan yang halal dan penuh tanggung jawab.
Pengorbanan yang Terbayar dengan Ketenangan
Meski harus menahan rindu untuk mencicipi hidangan Lebaran di rumah sendiri, Dudi dan rekan-rekannya merasa bahwa tugas ini adalah bagian dari ibadah. Mereka meyakini bahwa memastikan orang lain dapat beribadah dan berlibur dengan tenang adalah nilai mulia dari profesi mereka.
“Anak dan istri di rumah sudah mengerti. Mereka tahu bahwa ayahnya sedang berjuang. Doa mereka itulah yang menguatkan saya untuk tetap tegak berdiri di sini meskipun kota sedang sepi,” tutup Dudi.
Dedikasi para petugas keamanan ini menjadi cermin bahwa keamanan dan kenyamanan publik sering kali berdiri di atas pundak orang-orang yang rela menunda momen kebersamaan demi kewajiban. (Nbl)
















