Raker DKKT 2026, dihadiri Bupati Tangerang
KABUPATEN TANGERANG,- Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang (DKKT) menggelar Rapat Kerja (Raker) 2026 pada Rabu, 22 April 2026. Di tengah sorotan atas minimnya daya saing seni budaya daerah, forum ini tak sekadar agenda rutin, melainkan ujian awal: apakah kebangkitan yang kerap didengungkan benar-benar akan dijalankan atau kembali berhenti di tataran wacana.
Ketua DKKT, Hj. Aida Hubaedah, mendorong perubahan arah lembaga dari sekadar simbol menjadi mesin kerja kebudayaan. Ia menegaskan, kepengurusan baru pasca pelantikan akhir 2025 tidak boleh terjebak dalam pola lama yang seremonial, melainkan harus menghadirkan program yang terukur dan berdampak langsung bagi pelaku seni.
“DKKT harus menjadi rumah bersama, bukan panggung formalitas. Seniman butuh ruang hidup, bukan sekadar ruang bicara,” ujar Aida dalam forum yang diawali Pra-Raker tersebut.
Aida menekankan, persoalan utama seni budaya di daerah bukan semata kurangnya talenta, melainkan lemahnya ekosistem—mulai dari pembinaan, akses panggung, hingga infrastruktur. Tanpa intervensi konkret dan kolaborasi lintas sektor, potensi tersebut akan terus terfragmentasi.
Komitmen itu ditunjukkan lewat langkah nyata: hibah lahan pribadi seluas sekitar 1.300 meter persegi di Kecamatan Mauk untuk pembangunan sanggar seni. Inisiatif ini dipandang sebagai upaya memecah kebuntuan klasik, keterbatasan ruang ekspresi yang selama ini membatasi gerak komunitas seni.
Di sisi lain, Bupati Tangerang, Moch.
Maesyal Rasyid, menilai Raker DKKT sebagai momentum koreksi sekaligus akselerasi. Ia mengakui, prestasi seni budaya Kabupaten Tangerang masih tertinggal dan membutuhkan lompatan kebijakan yang lebih progresif.
“Seni dan budaya bukan pelengkap pembangunan. Ini identitas. Kalau tidak dikelola serius, kita akan terus tertinggal,” kata Maesyal.
Raker DKKT 2026 diharapkan melahirkan peta jalan yang tidak normatif—berbasis kebutuhan riil, terukur, dan berkelanjutan.
Tantangannya jelas: mengubah forum menjadi aksi, gagasan menjadi program, dan komitmen menjadi hasil yang bisa dirasakan.
Bagi para pelaku seni, keberhasilan Raker ini bukan diukur dari banyaknya rencana, melainkan dari seberapa jauh perubahan benar-benar terjadi. Di titik itu, DKKT kini berada di antara harapan yang kembali dinyalakan dan tuntutan untuk segera membuktikan. (NBL)







