UPN Veteran Jakarta bersama UniKL
KUALA LUMPUR,- Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta bekerja sama dengan Universiti Kuala Lumpur, Malaysia, melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Internasional bertema “Penguatan Ekosistem Ekonomi Desa melalui Optimalisasi BUMDes Berbasis Teknologi Inovatif dan Manajemen Pemasaran Produk Berkelanjutan.”
Program yang berlangsung selama satu bulan, mulai 22 Juli hingga 21 Agustus 2026, tersebut melibatkan akademisi, pakar usaha mikro, kecil, dan menengah, importir, serta sejumlah pelaku usaha di Malaysia.
Kegiatan dipimpin oleh dosen UPN “Veteran” Jakarta, Dr. Guntur Syahputra Saragih, bekerja sama dengan Dr. Mohd Hanafia Huri dan Universiti Kuala Lumpur atau UniKL Malaysia.
Menurut Dr Jubaedah sebagai angggota Tim mengatakan : Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes dalam mengelola dan memasarkan produk unggulan desa. Salah satu produk yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah kerupuk emping melinjo, yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk makanan ringan khas Indonesia di pasar Malaysia.
Dr. Guntur Syahputra Saragih mengatakan, emping melinjo memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas budaya yang kuat. Namun, produk tersebut perlu dikembangkan melalui peningkatan kualitas, inovasi kemasan, penguatan merek, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen internasional.
“Emping melinjo bukan hanya produk makanan ringan, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner Indonesia. Melalui pendampingan ini, kami mendorong agar produk BUMDes memiliki kualitas yang konsisten, kemasan yang menarik, informasi produk yang lengkap, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar Malaysia,” ujarnya.
Menurut Guntur, pengembangan emping melinjo juga perlu memanfaatkan teknologi inovatif, terutama dalam proses produksi, pengemasan, penyimpanan, promosi digital, dan pengelolaan penjualan. Penggunaan teknologi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperpanjang daya simpan produk.
Selain emping melinjo original, BUMDes juga dapat mengembangkan variasi produk, seperti emping rasa pedas, manis, balado, keju, dan rendah garam. Diversifikasi tersebut diperlukan untuk menyesuaikan produk dengan selera konsumen yang beragam.
Dalam rangkaian kegiatan, tim PKM Internasional melakukan kunjungan akademik ke kampus UniKL Malaysia. Kunjungan itu menjadi sarana pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan UMKM, pemanfaatan teknologi digital, pengelolaan bisnis, dan pemasaran produk secara berkelanjutan.
Tim juga memperoleh pandangan dari pakar UMKM Malaysia, Prof. Dr. Abdul Razak bin Abdul Hadi. Masukan yang diberikan antara lain berkaitan dengan penguatan daya saing, konsistensi kualitas, identitas merek, desain kemasan, pemasaran digital, serta kemampuan pelaku usaha dalam memahami kebutuhan konsumen.
Produk emping melinjo yang akan dipasarkan ke luar negeri perlu dilengkapi dengan informasi bahan baku, tanggal produksi, masa kedaluwarsa, berat bersih, identitas produsen, dan petunjuk penyimpanan. Aspek legalitas dan sertifikasi juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan produk agar dapat diterima di pasar internasional.
Selain melakukan kegiatan akademik, tim bertemu dengan pengusaha dan importir Malaysia, salah satunya Emelia. Pertemuan tersebut membahas peluang pemasaran produk unggulan desa Indonesia, termasuk kerupuk emping melinjo, kepada konsumen Malaysia.
Diskusi bersama importir mencakup kebutuhan pasar, standar mutu, bentuk kemasan, ukuran produk, harga jual, sistem distribusi, kontinuitas pasokan, serta pola kerja sama antara BUMDes, UMKM, importir, dan pelaku usaha Malaysia.
Pertemuan tersebut diharapkan memberikan gambaran nyata mengenai persyaratan yang perlu dipenuhi sebelum emping melinjo dipasarkan secara lebih luas. Produk juga perlu disesuaikan dengan preferensi konsumen tanpa menghilangkan cita rasa dan karakter khas Indonesia.
Tim PKM Internasional selanjutnya mengunjungi sejumlah usaha kuliner Indonesia yang berkembang di Malaysia. Bersama Dr. Nasrulloh, tim melakukan kunjungan ke Restoran Minang Padi Sawah, yang memperkenalkan kuliner Minangkabau kepada masyarakat Malaysia.
Kunjungan juga dilakukan ke Restoran Jawa Sido Mampir, yang menyajikan berbagai makanan khas Jawa. Kedua restoran tersebut dinilai berpotensi menjadi mitra promosi dan pemasaran produk-produk BUMDes asal Indonesia.
Kerupuk emping melinjo dapat dipasarkan sebagai makanan pendamping, camilan, ataupun bagian dari paket menu Nusantara di restoran Indonesia. Jaringan restoran juga dapat menjadi sarana untuk menguji respons konsumen sebelum produk dipasarkan melalui toko ritel, distributor, dan platform digital di Malaysia.
Selain emping melinjo, peluang pemasaran juga terbuka bagi produk desa lainnya, seperti keripik, rempah-rempah, sambal, bumbu masak, makanan olahan, minuman tradisional, dan produk kerajinan.
Program PKM Internasional ini diharapkan menghasilkan model pendampingan BUMDes yang mencakup peningkatan mutu produksi, inovasi produk, desain kemasan, penguatan merek, digitalisasi pemasaran, pengelolaan keuangan, dan pembangunan jaringan pasar internasional.
Kerja sama UPN “Veteran” Jakarta dan UniKL Malaysia sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat dan penguatan kerja sama internasional.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, BUMDes, UMKM, pakar, importir, dan pelaku usaha, produk kerupuk emping melinjo diharapkan tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan desa yang modern, berdaya saing, dan berpeluang memasuki pasar Malaysia.***






