Persembahan Anak Bangsa, Menyongsong HUT RI Ke-81 Untuk Kabupaten Tangerang

- Penulis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 21:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yan S. Wiradinata. (Tengan, memegang piagam penghargaan) H. Ahmad Hidayat, (samping kanan) alumni SPGN Tangerang Tahun 1984 selaku Sekretaris PWRI Kec. Cikupa. Paling kanan : H. Heri Susanto, alumni SPGN Tangerang Tahun 1981, Pengurus PWRI Kec. Cikupa. Samping kiri Hj. Siti Nuryati, alumni SPGN Tangerang, Pengurus PWRI Kec. Cikupa. Dan Paling kiri Hj. Uyum, alumni SPGN Tangerang Tahun 1985, anggota PWRI Kec. Cikupa

 

 

ABAH H. IYAN : NADA YANG TAK PERNAH PADAM DI TANAH BENTENG

 

“Ada lagu yang tak pernah diminta untuk dilupakan”.

 

 

Yan S. Wiradinata saat menciptakan lagu Mars dan Hyme Kabupaten Tangerang

 

 

Oleh : Edi Kusmaya (Penggiat Seni Budaya Kabupaten Tangerang)

 

Setiap upacara dikibarkan, setiap janji jabatan diucapkan, setiap derap langkah aparatur menata Tangerang yang indah dan nyaman, lagu itu mengalun. Khidmat. Menggetarkan dada. Menjadi nadi.

 

Seirama di dalam langkah sedia…

Satu padu di dalam cita setia…

 

Itulah Mars Kabupaten Tangerang.

 

Namun, di balik gempita yang dikumandangkan setiap saat itu, ada sebuah nama yang hampir senyap. Ada seorang guru yang duduk di senja usianya di Rangkasbitung, menatap jauh ke tanah yang pernah ia beri nyawa lewat nada.

 

Beliau adalah Abah H. Iyan — Iyan Sofyan Syah, yang dalam dunia karyanya dikenal sebagai Yan S. Wiradinata.

 

Lahir di Bandung, 16 Juni 1948, dengan jiwa seorang pendidik dan seniman. Takdir membawanya menjadi guru di SPG Tangerang. Puluhan tahun ia mengabdi, bukan sekadar mentransfer ilmu, tapi menanamkan akhlak. Murid-muridnya masih mengingat, bagaimana kapur tulis di tangannya tak hanya menulis rumus, tapi juga menuliskan keteladanan.

 

Dan pada tahun 1987, dari sebuah perlombaan cipta lagu yang sederhana, lahirlah karya agung itu. Sebuah ikhtiar anak bangsa untuk memberi identitas bagi tanah kelahirannya. Karya itu begitu agung, hingga negara pun mengukuhkannya. Melalui Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 7 Tahun 1991 tentang Hymne dan Mars Tangerang, lagu itu di-Perda-kan. Dilindungi hukum. Menjadi resmi. Menjadi abadi.

 

Lagu itu bukan sekadar notasi. Ia adalah sumpah pahlawan yang menjelma benteng pertahanan semesta, ia adalah Satya Karya Kertaraharja yang terus hidup.

 

Jika kita buka lembaran rekam jejaknya, kita akan malu karena lupa.

 

Lelaki ini pernah menerima bingkisan kasih dari Ibu Negara Tien Soeharto di Sasana Langen Budoyo Taman Mini, atas Lagu Bina Keluarga Balita pada 1991.

 

Ia pernah menerima Piagam Kehormatan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 18 Agustus 2008 atas pengabdiannya sebagai guru selama 33 tahun.

 

Ia pernah dianugerahi penghargaan dari Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah atas jasanya memajukan seni budaya Banten pada 2008.

 

Bahkan namanya pernah terbang melintasi batas negara, menjadi tamu istimewa Raja Thailand Bhumibol Adulyadej untuk mengikuti Festival Seni di Bangkok dalam rangka Ulang Tahun Raja ke-80 pada 2007.

 

Dunia telah memberi hormat. Namun di rumahnya sendiri, di Kabupaten yang mars-nya ia ciptakan, perhatian itu masih menjadi rindu.

 

Suara dari Murid yang Tak Lupa

Pada Selasa, 11 Agustus 2026, di sebuah rumah sederhana di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, terjadi silaturahmi yang mengharu biru. Pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Cikupa, yang juga murid-murid beliau di SPG Tangerang, datang bersimpuh.

 

 

Bersama Ketua PWRI Kabupaten Tangerang H. Rukman dan H. Uwes Kasubag Bagian Kesra Pemkab Tangerang – saat diskusi seputar upaya apresiasi terhadap tokoh-tokoh yang telah berjasa terhadap Kabupaten Tangerang di Hotel Vega

 

 

H. Dayat, sang Sekretaris PWRI Cikupa, mewakili suara itu. Suaranya bergetar dalam rekaman bincang yang ia titipkan:

 

“Saya teringat betul ketika ada acara-acara tertentu, selalu dikumandangkan pertama lagu kebangsaan Indonesia. Ada pengibaran bendera… Tapi khusus di Kabupaten Tangerang, ada sebuah lagu yang memberikan semangat, spirit motivasi kepada pemerintah dan masyarakatnya. Lagunya… Mars. Saya teringat pencipta lagu tersebut adalah guru saya ketika saya sekolah di SPG Tahun 1984. Lagu Mars Tangerang itu diikat oleh Perda… Dan sampai saat ini, masih dikumandangkan. Mumpung beliau masih hidup, saya ingin ada apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Tangerang, apapun itu bentuknya. Orangnnya masih hidup. Karena karyanya setiap saat berkumandang.”

 

Di depan Abah H. Iyan, H. Dayat kembali berkata, sambil menunjukkan lembaran penghargaan yang ditandatangani H. Zakaria Syafei Sobirin tahun 1991 itu:

 

“Bapa, Abdi, saya Dayat, bersama teman-teman… mewakili masyarakat Kabupaten Tangerang, sekaligus murid-murid Bapak. Saya teringat dengan karya Bapak. Karya Bapak menciptakan lagu yang sangat populer untuk masyarakat Kabupaten Tangerang… Betul Bapak yang menciptakan? Ini buktinya nih… Penghargaan kepada Bapak atas jasanya… yang diperdakan dalam Perda Nomor 7 Tahun 1991. Luar biasa. Terima kasih, Bapak. Nanti saya sampaikan kepada pimpinan Kabupaten Tangerang. Mudah-mudahan ditemui oleh Pak Bupati, ditemui oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang atas jasanya Bapak.”

 

Dialog itu bukan keluhan. Itu adalah doa yang dipanjatkan oleh seorang murid kepada guru, oleh seorang warga kepada pemimpinnya.

 

Persembahan Untuk HUT RI Ke-81 : Jangan Biarkan Pahlawan Sunyi di Masa Senja

Inilah persembahan kami, anak bangsa Kabupaten Tangerang, di ambang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81.

 

Kita telah merdeka 81 tahun karena ada yang berani mencipta benteng. Tangerang dijadikan benteng bertahan, tangguh perkasa. Dan Abah H. Iyan telah menjadikan benteng itu bernyawa lewat lagu.

 

Sudah selayaknya Pemerintah Kabupaten Tangerang memberikan apresiasi yang sewajarnya. Bukan sekadar piagam yang berdebu. Tapi perlakuan istimewa, perhatian yang tulus, hak yang layak bagi seorang pencipta lagu daerah yang karyanya dikumandangkan setiap hari, setiap pekan, setiap tahun, tanpa pernah absen.

 

Berikan beliau ruang kehormatan di setiap upacara. Sebut namanya dengan bangga sebelum mars itu dinyanyikan. Datangilah Beliau, peluklah Beliau, katakan: “Terima kasih, Abah, Tangerang bangga padamu.”

 

Dan ingatlah…

 

Abah H. Iyan hanyalah satu dari sekian banyak “Iyan” yang lain. Masih banyak pahlawan sunyi di sawah, di sanggar tari, di lapangan bola, di ruang kelas yang reot, di laboratorium, di gotong royong kampung — yang telah menyumbangkan Satya dan Karyanya untuk Kertaraharja-nya Tangerang. Mereka juga menunggu untuk diapresiasi sebelum namanya hanya tinggal nisan.

 

Jangan biarkan nada itu padam. Jangan biarkan penciptanya dilupakan. Hidupkan penghargaan, sebelum penghargaan hanya menjadi penyesalan.

 

Dipersembahkan dengan cinta untuk Kabupaten Tangerang Semakin Gemilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cakrabanten.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Teluknaga Genap 76 Tahun, Tasyakuran Jadi Ajang Memperkuat Kebersamaan
Purna, Tapi Tak Pernah Selesai: Para Wredatama Menjahit Kembali Makna Pengabdian
Camat Teluknaga Buka Turnamen PORCAM HUT RI Ke-81, Olahraga Jadi Ruang Merawat Persatuan
Bupati Tangerang Rotasi Enam Pejabat Eselon II, Penyegaran Birokrasi Dimulai
Tim Gabungan Sisir Sungai Cisadane, Selidiki Dugaan Pencemaran Limbah B3 Lewat Uji Laboratorium
Binwasdes Teluknaga Hadiri Musdes Pembentukan Tim RKPDes 2027 Desa Tanjung Burung, Tekankan Perencanaan Partisipatif
Status Darurat Kebakaran TPA Jatiwaringin Dicabut, Pemkab Tangerang Lanjutkan Mitigasi dan Perkuat Antisipasi Kebakaran
Warisi Semangat Pengabdian Sang Ayah, Asim Dames Siapkan Yayasan Babah Dames Indonesia
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 21:19 WIB

Persembahan Anak Bangsa, Menyongsong HUT RI Ke-81 Untuk Kabupaten Tangerang

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:45 WIB

Teluknaga Genap 76 Tahun, Tasyakuran Jadi Ajang Memperkuat Kebersamaan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:16 WIB

Purna, Tapi Tak Pernah Selesai: Para Wredatama Menjahit Kembali Makna Pengabdian

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Camat Teluknaga Buka Turnamen PORCAM HUT RI Ke-81, Olahraga Jadi Ruang Merawat Persatuan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:15 WIB

Bupati Tangerang Rotasi Enam Pejabat Eselon II, Penyegaran Birokrasi Dimulai

Berita Terbaru

Kabupaten Tangerang

Persembahan Anak Bangsa, Menyongsong HUT RI Ke-81 Untuk Kabupaten Tangerang

Sabtu, 15 Agu 2026 - 21:19 WIB