TELUKNAGA, TANGERANG – Di balik kebisingan mesin truk sampah dan aroma menyengat yang menusuk hidung, terdapat raga-raga tangguh yang setiap hari mempertaruhkan kesehatan mereka. Para petugas pengangkut sampah di Kecamatan Teluknaga tetap konsisten memungut limbah masyarakat, meski harus berhadapan langsung dengan jutaan patogen berbahaya tanpa apresiasi yang layak.
Bagi para petugas ini, sampah bukan sekadar tumpukan benda yang dibuang, melainkan medan tempur. Setiap kantong plastik yang mereka angkat berpotensi mengandung bakteri, virus, hingga benda tajam yang dapat mengancam keselamatan. Tanpa peralatan medis yang memadai, mereka secara sukarela menjadi tameng bagi warga Teluknaga agar terhindar dari wabah penyakit.
”Orang melihat sampah itu kotoran yang harus dijauhi, bagi kami itu adalah ‘teman’ sehari-hari. Kami tahu ada kuman, bakteri, bahkan ada pecahan kaca atau beling di dalamnya. Perih kalau kena tangan, tapi kalau kami berhenti, besok satu kecamatan bisa sakit karena tumpukan sampah yang membusuk,” ujar petugas kebersihan sambil menyeka keringat di dahinya.
Konsistensi mereka luar biasa; hujan maupun terik matahari tidak menghentikan langkah mereka untuk memastikan sampah-sampah tidak membusuk di depan pintu rumah warga.
Ironi Kritik di Tengah Pengabdian.
Namun, dedikasi tinggi ini sering kali berbalas pilu. Keberadaan para petugas ini seolah-olah “gaib” hanya terlihat ketika ada masalah. Masyarakat cenderung abai saat lingkungan mereka bersih, namun dengan cepat melontarkan kritik pedas ketika terjadi penumpukan sampah di bahu jalan atau sumbatan di aliran sungai.
Kritik tersebut sering kali datang tanpa melihat realita di lapangan:
- Beban Kerja Luar Biasa: Volume sampah yang terus meningkat setiap hari menuntut fisik yang prima tanpa jeda.
- Kurangnya Kesadaran Warga: Petugas sering harus memungut sampah yang berserakan di jalanan atau mengais limbah di dasar sungai akibat perilaku buang sampah sembarangan.
- Minimnya Empati: Masyarakat lebih sering mengeluh tentang “bau” yang lewat daripada memberikan sekadar ucapan terima kasih atau senyum kepada mereka yang membersihkannya.
Para petugas pengangkut sampah ini bekerja dalam sunyi, menjauhkan penyakit dari keluarga-keluarga di Teluknaga sementara mereka sendiri berada di titik risiko tertinggi. Sudah saatnya cara pandang masyarakat berubah. Mereka bukan sekadar “tukang sampah”, melainkan teknisi sanitasi yang menjaga urat nadi kesehatan lingkungan tetap berdenyut.
“Kami tidak minta dipuji-puji. Kami cuma minta tolong, jangan buang sampah ke sungai. Kasihan teman-teman yang harus turun ke air kotor buat ambil sampah itu satu-satu. Hargailah kami sedikit saja dengan cara buang sampah pada tempatnya.”harapnya.
Apresiasi paling nyata yang mereka harapkan bukanlah sekadar pujian, melainkan perubahan perilaku: berhenti membuang sampah ke sungai dan mudahkanlah kerja mereka dengan membuang sampah pada tempat yang semestinya. (Nbl)














