Situasi perbaikan jembatan Kalibaru
TANGERANG UTARA – Perbaikan Jembatan Kalibaru yang menghubungkan wilayah Teluknaga dan Pakuhaji akhirnya mulai dikerjakan. Proyek renovasi ini menjadi langkah darurat pemerintah untuk mengatasi kerusakan serius yang selama ini memicu kemacetan panjang hingga lebih dari 5 kilometer.
Pelaksanaan perbaikan dilakukan pada Rabu (18/4), dengan fokus utama pada pembenahan lantai jembatan yang mengalami kerusakan parah. Kondisi tersebut sebelumnya dikeluhkan warga karena menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi di kawasan Tangerang Utara.
Perwakilan UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Banten wilayah Utara, Abdul Rohim, menyampaikan bahwa proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan.
“Perbaikan ini bersifat renovasi, dengan target pengerjaan sekitar dua bulan. Pekerjaan difokuskan pada lantai jembatan, bukan keseluruhan struktur,” ujar Abdul Rohim saat di lokasi, Rabu (15/4).
Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan lebih kompleks. Jembatan yang dibangun pada 1985 itu awalnya hanya diperuntukkan bagi kendaraan bertonase ringan. Kini, kendaraan bermuatan lebih dari 8 ton melintas setiap hari.
Situasi ini memunculkan dugaan kuat bahwa kerusakan bukan sekadar faktor usia, melainkan akibat pembiaran terhadap kendaraan over tonase yang melintasi jalur tersebut tanpa pengawasan ketat.
Pantauan di lokasi menunjukkan perbaikan berupa pembongkaran dan pengecoran ulang lantai beton setebal 25 cm. Sementara itu, antrean kendaraan masih mengular panjang.
Petugas kini membatasi kendaraan berat dan memutarbalikkan yang melebihi kapasitas. Namun kebijakan ini dinilai terlambat oleh sebagian warga.
Pertanyaannya, apakah perbaikan parsial ini cukup menjamin keselamatan jangka panjang? Ataukah Jembatan Kalibaru hanya sedang “ditambal sementara” sambil menunggu kerusakan yang lebih besar terjadi?
(NBL)







