Catatan dari HUT Ke-1, “MENYULAM WAKTU, MERAWAT BUDAYA” Satu Tahun Jejak Gemilang DKKT Menjaga Napas Tangerang

- Penulis

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Selendang yang Jangan Sampai Lusuh. Seni budaya adalah napas yang tak pernah putus. Ia adalah selendang yang ditenun dari benang-benang kearifan leluhur, yang jika kita biarkan lusuh, maka hilanglah jati diri kita.

 

Pernahkah kita bertanya, masihkah anak-anak kita mengenal kue jengkolor, kue jojorong, apem, atau gorengan bala-bala? Atau mereka hanya tahu cilok? Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi kegelisahan sunyi, sekaligus alasan mengapa Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Tangerang [DKKT] harus hadir.

 

Melestarikan dan mengembangkan seni budaya bukan sekadar menjaga tarian agar tetap menari atau menjaga dongeng agar tetap didengar. Ia adalah laku menjaga agar jiwa sebuah daerah tetap hidup, berakar kuat pada tanahnya sendiri dan menjulang gagah menatap masa depan. Inilah yang diikhtiarkan DKKT dalam satu tahun perjalanannya — sebuah laku budaya yang sunyi namun gemuruh maknanya.

 

Berikut adalah enam tapak jejak DKKT yang merangkai setahun pengabdian untuk Tangerang yang semakin gemilang:

 

1. MUBES – Merumuskan Nadi Peradaban 18 Februari 2025, Tangerang Volunteer Park, Solear

Segalanya bermula dari musyawarah yang penuh suka cita. Di bawah komando Ketua Panitia Hamdan N.B, S.H., M.H., Mubes ini dibuka oleh Kabid Disporabudpar Imam Subekti, dengan sambutan Sekda Kabupaten Tangerang Soma Atmaja.

 

Mubes menjadi candradimuka: mengevaluasi program yang lalu, menyusun strategi baru yang adaptif termasuk pemanfaatan teknologi, serta memperkuat sinergi seniman, budayawan, pemerintah dan masyarakat. Momen paling bersejarah adalah transformasi nomenklatur dari Dewan Kesenian menjadi Dewan Kesenian Kebudayaan Kabupaten Tangerang sesuai Perda No. 6 Tahun 2018.

 

Pesan indah dari Ketua sebelumnya Mas Banjir, “Nggak usah ngotot-ngototan, intinya bagaimana bisa senang dan gembira”, Mubes menetapkan secara musyawarah Hj. Aida Hubaedah, S.E., M.M., sebagai Ketua DKKT masa bakti 2025-2028.

 

2. Pelantikan – Sumpah Untuk Membangkitkan Prestasi | GSG Puspemkab Tigaraksa.

 

Kepengurusan DKKT Masa Bakti 2025-2030 resmi dilantik oleh Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid. Dengan tema “Bersama Kita Bina Sinergitas Mengedepankan Seni dan Budaya di Kabupaten Tangerang yang Semakin Gemilang”, pelantikan ini menjadi penanda kebangkitan.

 

Bupati dengan jujur dan tegas menyampaikan evaluasi yang menjadi cambuk: “Kabupaten Tangerang miskin terhadap prestasi seni dan budaya. Olahraga jelas, agama jelas, MTQ juara. Tapi belum banyak mendengar prestasi seni dan budaya.” Sebuah cambuk yang membakar semangat.

 

Ketua Hj. Aida Hubaedah menjawab tantangan itu dengan komitmen: segera melaksanakan Rapat Kerja dan menjadi rumah besar bagi seluruh seniman untuk berkarya dan berprestasi hingga kancah nasional.

 

3. Peresmian Rumah Edukasi Sanggar Budaya Dongeng Nusantara & Pengukuhan Ratu Dongeng | 30 Januari 2026

 

Di tengah gempuran era digital, DKKT membuka lembaran baru yang paling puitis. Peresmian Rumah Edukasi Sanggar Budaya Dongeng Nusantara dan pengukuhan Kak Irma sebagai Ratu Pendongeng Kabupaten Tangerang.

 

Dongeng bukan sekadar pengantar lelap. Ia adalah jembatan imajinasi, wahana penanaman budi pekerti, dan benteng penjaga warisan lisan leluhur. Dengan suara, ekspresi dan pesan moral, Kak Irma diharapkan menghidupkan kembali karakter luhur cerita rakyat Nusantara dan menumbuhkan literasi budaya di hati anak-anak kita.

 

4. Rapat Kerja Perdana – Memetakan Peta Jalan 5 Tahun | 22 April 2026, GSG Puspemkab Tigaraksa

 

Dibuka langsung oleh Bupati Maesyal Rasyid, dipimpin Ketua Hj. Aida Hubaedah, dan dihadiri lintas sektor termasuk sembilan anggota DPRD, Raker ini adalah dapur perumusan masa depan.

 

Fokusnya tajam: pengembangan ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan, percepatan pembangunan gedung kesenian daerah sebagai rumah ekspresi, pemerataan kegiatan seni berbasis komunitas hingga ke pelosok kecamatan, dan mendorong seniman lokal menembus panggung nasional. 11 komite memaparkan program konkret — dari pencak silat hingga seni dongeng — sebagai bukti bahwa potensi Tangerang itu mahabesar.

 

5. Peringatan Hari Tari Sedunia – Ketika Tubuh Menjadi Aksara | 10 Mei 2026, Graha Pemuda Tigaraksa

 

Pukul 07.30 WIB, Graha Pemuda bergemuruh. 250 penari dari puluhan sanggar lokal berkumpul. Bukan sekadar perayaan seremonial, ini adalah unjuk gigi identitas Banten — dari tari tradisi yang sakral hingga kreasi modern yang dinamis.

 

Dihadiri Ketua Umum Hj. Aida Hubaedah, puncak peringatan ini menjadi ruang edukasi paling indah: mengajarkan anak-anak dan generasi muda untuk mencintai budayanya bukan lewat kata-kata, melainkan lewat gerak, lewat keringat, lewat keindahan yang bisa dilihat dan dirasakan.

 

6. Festival Nyi Mas Banten Open Tournament II – Menghidupkan Spirit Jawara Perempuan | GOR Kitri Bhakti, Curug.

 

Inilah penutup yang gagah. Kolaborasi DKKT & Oksa Optima One. Festival Pencak Silat yang mengusung nama pahlawan perempuan legendaris Banten — Nyimas Melati dan Nyimas Gamparan. Ratusan pesilat muda dari berbagai paguron se-Banten dan sekitarnya berkumpul, bukan hanya adu tangkas fisik, tapi refleksi sejarah.

 

Diiringi riuh ketukan kendang silat, setiap jurus adalah warisan, setiap langkah adalah doa. Di sini, pencak silat melampaui olahraga prestasi — ia menjadi simbol persatuan, kebanggaan budaya, dan benteng karakter bangsa.

 

 

 

SUARA DARI PANGGUNG KE-1: Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, S.E.

Dalam peringatan Ulang Tahun ke-1 DKKT, Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah, S.E., berdiri atas nama Pemerintah Kabupaten Tangerang dan menyampaikan pesan yang jujur, hangat, dan membumi.

 

“Saya mengucapkan selamat ulang tahun yang pertama kepada Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Tangerang. Semoga di usia pertama ini DKKT semakin berkembang, semakin solid, dan semakin mampu menjalankan perannya sebagai wadah bagi para seniman, budayawan, dan seluruh insan kreatif dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan seni di Kabupaten Tangerang,” ujarnya.

 

Menurutnya, seni budaya adalah bagian penting dari jati diri daerah. Kabupaten Tangerang adalah miniaturnya Indonesia. Semua suku ada, semua agama ada, maka seni budayanya pun macam-macam. Kekayaan itu adalah aset berharga yang harus dijaga agar tetap hidup dan dikenal generasi mendatang.

 

Wakil Bupati pun menyentil kegelisahan yang nyata: “Anak-anak sekarang jarang ada yang tahu kue jengkolor, kue jojorong. Jarang ada yang tahu gorengan bala-bala, sempol ayam. Masih tahunya cilok. Tapi makanan tradisional harus dikenalkan. Kayaknya bukan seni aja, kuliner juga harus kita budayakan,” tegasnya.

 

Ia menekankan pentingnya warna identitas Kabupaten Tangerang yang harus diperkenalkan kepada anak-anak, pentingnya kolaborasi dengan sekolah-sekolah untuk sosialisasi seni budaya, dan pentingnya memberikan ruang seluas-luasnya bagi seniman untuk berkreasi tanpa meninggalkan nilai luhur.

 

Di akhir sambutan, ia menutup dengan pantun yang disambut tepuk tangan:

 

Pergi ke taman melihat pertunjukan,

Sambil sebentar membeli anyaman.

Mari lestarikan seni dan budaya,

Agar Tangerang semakin gemilang di masa depan.

 

SUARA DARI PANGGUNG KE-2: Ketua Umum DKKT, Hj. Aida Hubaedah, S.E., M.M.

Menjawab harapan pemerintah dan tantangan Bupati, Ketua Umum DKKT Hj. Aida Hubaedah menegaskan bahwa satu tahun ini baru pondasi awal.

 

“Satu tahun adalah pondasi. DKKT hadir sebagai rumah besar seniman dan mitra strategis Pemkab Tangerang dalam mewujudkan visi Bhakti, Tradisi, Kerta Raharja,” ujar Hj. Aida.

 

Selama satu tahun, DKKT telah melakukan pendataan lebih dari 200 sanggar seni, Rapat Kerja Kebudayaan, festival tari dan pencak silat, hingga pembinaan ekonomi kreatif berbasis batik Tangerang.

 

Namun, ia menegaskan perjalanan masih panjang. Budaya tidak boleh berhenti sebagai tontonan.

 

“Budaya tidak boleh hanya jadi tontonan, harus jadi tuntunan dan sumber kesejahteraan,” tegasnya.

 

“Kabupaten Tangerang bukan hanya kawasan industri, tetapi juga gudang seni dan budaya yang harus terus kita jaga, kembangkan, dan kenalkan kepada generasi berikutnya. Mulai dari tari Cokek, pencak silat, debus, lenong, hingga batik Bamboo,” katanya.

 

PENUTUP :

Menjaga Api, Menabuh Gendang

Dari Solear hingga Tigaraksa, dari ruang musyawarah hingga arena gelanggang, ada benang merah yang mengikat empat hal:

 

Pertama, Transformasi dan Identitas. DKKT telah bertransformasi menjadi wadah kebudayaan yang sah secara Perda.

 

Kedua, Sinergi adalah Kunci. Tanpa kolaborasi dengan Disporabudpar, Bupati, DPRD, sanggar-sanggar, dan masyarakat, seni hanyalah gema di ruang kosong.

 

Ketiga, Pemerataan dan Regenerasi. Seni tidak boleh hanya hidup di pusat kota. Harus menyentuh anak-anak lewat dongeng, remaja lewat tari, dan pemuda lewat silat, termasuk kuliner dan warna identitas daerah.

 

Keempat, Dari Pelestarian Menuju Prestasi dan Kesejahteraan. Kita tidak hanya merawat warisan agar tidak punah, tapi kita bina agar berprestasi dan menjadi sumber kesejahteraan, agar bisa bersaing di panggung nasional dan internasional.

 

Maka jika budaya adalah sungai, biarlah DKKT menjadi tepian yang menjaganya tetap mengalir jernih. Karena sejatinya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan kidung nenek moyangnya, melainkan bangsa yang mampu menyanyikan kidung itu dengan nada yang baru untuk didengar oleh dunia.

 

Mari kita jaga apinya, mari kita tabuh gendangnya. Karena selama seni masih bernapas, Tangerang tak akan pernah kehilangan jiwanya. Salam Budaya! . Oleh : Drs. Edi Kusmaya ; Ket. Divisi Publikasi, Arsip & Perpustakaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cakrabanten.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Program Ruang Bersama Indonesia Hadir di Teluknaga, Perkuat Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat
Satu Tahun DKKT: Merawat Tradisi, Menagih Prestasi Seni Budaya Tangerang
Ulama, Santri dan Tokoh Masyarakat Temui Bupati Tangerang, Rencana Kegiatan Civas Regal di PIK 2 Ditolak
‎Kirab Budaya Tujuh Tahun Sekali, 90 Joli Suci Diarak Keliling Kota Tangerang
Program Bang Pendi Buka Akses Pendidikan Paket B dan C bagi Warga Teluknaga
Komite II DPD RI dan KKP Perkuat Koordinasi, Teluknaga Jadi Titik Pendalaman Informasi
Dari Pesta Siaga, Teluknaga Siapkan Generasi Tangguh untuk Indonesia Emas 2045
Semarak HUT RI ke-81 di Teluknaga: Camat Kurnia Pimpin Pengibaran Sang Merah Putih
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Program Ruang Bersama Indonesia Hadir di Teluknaga, Perkuat Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:34 WIB

Satu Tahun DKKT: Merawat Tradisi, Menagih Prestasi Seni Budaya Tangerang

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:26 WIB

Catatan dari HUT Ke-1, “MENYULAM WAKTU, MERAWAT BUDAYA” Satu Tahun Jejak Gemilang DKKT Menjaga Napas Tangerang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 23:34 WIB

Ulama, Santri dan Tokoh Masyarakat Temui Bupati Tangerang, Rencana Kegiatan Civas Regal di PIK 2 Ditolak

Minggu, 27 September 2026 - 22:57 WIB

‎Kirab Budaya Tujuh Tahun Sekali, 90 Joli Suci Diarak Keliling Kota Tangerang

Berita Terbaru