Haji Ahmad Haerudin ASN Kabupaten Tangerang
KABUPATEN TANGERANG,- Kamis, 2 Juli 2026. Ketika sebagian orang mengakhiri hari kerja dengan beristirahat, Haji Ahmad Haerudin justru memulai aktivitas keduanya. Selepas bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang, ia bergegas menuju kandang untuk memerah susu kambing.
Rutinitas yang dijalaninya bukan sekadar menyalurkan hobi. Dari kandang sederhana di Kampung Ciakar, Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, lahirlah Haerudin Farm, sebuah usaha peternakan kambing perah yang kini menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus harapan baru bagi keluarganya.
Perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam.
Haerudin mengaku mulai mengenal dunia peternakan sejak 2005. Saat itu ia memelihara kambing dan domba pedaging sebagai kegiatan sampingan sekaligus persiapan kebutuhan kurban. Namun arah usahanya berubah pada 2022 setelah mendapat masukan dari seorang pembeli.
“Pak, coba pelihara kambing perah,” ujar pembeli tersebut, sebagaimana diingat Haerudin.
Saran sederhana itu mendorongnya belajar dari nol. Produksi susu yang semula hanya sekitar satu liter perlahan meningkat seiring bertambahnya pengalaman.
“Awalnya memang hobi, istilahnya iseng-iseng berhadiah. Ternyata bisa berkembang menjadi usaha yang memberi manfaat dan memiliki nilai ekonomi,” kata Haerudin.
Kini Haerudin Farm memelihara beberapa jenis kambing perah, di antaranya Jawarandu, Sapera, dan Saanen. Setiap pagi, proses pemerahan masih dilakukan secara manual. Susu segar kemudian dikemas dalam botol berukuran 200 mililiter dan dipasarkan langsung kepada pelanggan.
Meski usahanya masih berskala rumahan dan belum berbadan hukum sebagai UMKM, permintaan terus berdatangan. Sebagian pelanggan mengonsumsi susu kambing sebagai bagian dari pola hidup sehat maupun berdasarkan pengalaman pribadi mereka.
Haerudin menegaskan dirinya tidak menjual janji kesembuhan. Menurutnya, sejumlah pelanggan menyampaikan testimoni bahwa mereka merasa lebih nyaman atau bugar setelah rutin mengonsumsi susu kambing. Pengalaman tersebut menjadi cerita dari konsumen dan bukan klaim medis.
Di balik usaha susunya, Haerudin juga mengembangkan konsep peternakan terpadu. Baginya, hampir tidak ada bagian dari peternakan yang terbuang sia-sia.
Kotoran ternak direncanakan diolah menjadi pupuk organik, sementara limbah lainnya dimanfaatkan untuk mendukung budidaya ikan lele dan tanaman cabai yang berada di sekitar kandang.
“Ke depan saya ingin semua hasil dari peternakan ini bisa dimanfaatkan. Tidak ada yang terbuang,” ujarnya.
Keterbatasan tenaga kerja masih menjadi tantangan utama dalam mewujudkan rencana tersebut. Karena itu, ia memilih fokus mengembangkan kualitas produksi susu sambil menyiapkan pengelolaan limbah secara bertahap.
Di tengah kesibukannya sebagai ASN, Haerudin tetap percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan membangun usaha dari sesuatu yang disukai.
Ia mengenang masa ketika masih menjadi guru honorer. Seusai mengajar, ia mencari rumput untuk pakan ternak. Aktivitas yang awalnya hanya mengisi waktu luang itu justru menjadi bekal membangun usaha yang terus berkembang hingga sekarang.
“Marilah kita bekerja sambil berkarya. Mulailah dari hobi, dari sesuatu yang kita senangi. Kalau ditekuni, bukan hanya memberikan kebahagiaan, tetapi juga bisa menghadirkan nilai ekonomi,” katanya.
Kisah Haji Ahmad Haerudin menunjukkan bahwa semangat berkarya tidak berhenti di balik meja kantor. Di sela tugas sebagai ASN, ia membuktikan bahwa ketekunan mengembangkan hobi dapat tumbuh menjadi usaha produktif yang memberi manfaat, membuka peluang ekonomi, dan menginspirasi masyarakat untuk memulai dari langkah kecil.
Penulis : Edi Kusmaya,, penggiat seni budaya dan conten creator






