Sebuah gema dari Kang Wahyu Bule, Sukamulya
Oleh : Drs. Edi Kusmaya, M.Pd
(Ket Div Media, Arsip & Perpustakaan DKKT)
Pernahkah kita bertanya, untuk apa sekolah setinggi-tingginya jika lulusannya lupa cara menunduk hormat pada guru?
Di tengah riuh zaman digitalisasi yang serba cepat, suara dari Kantor Kecamatan Sukamulya mengingatkan kita pada akar. Suara itu milik Kang Wahyu, seorang penggiat seni budaya yang akrab disapa “Bule”. Ia tidak bicara teori di atas kertas. Ia bicara tentang jiwa: bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah dua sayap yang tak boleh dipisah. Jika satu patah, kita hanya akan terbang berputar-putar, tanpa arah.
Moral adalah Kompas, Bukan Sekadar Tulisan
Kang Wahyu memulai dengan tamparan halus: “Pendidikan itu kan moral yang paling utama”. Di zaman kemajuan ini, kita berlomba mengejar nilai, gelar, dan kepintaran. Tapi kita sering lupa menanamkan budi pekerti.
Bahasa Sunda menyebutnya Ngahormat ka kolot, ngahormat ka guru. Itu bukan pelajaran di buku. Itu adalah etika, tata krama, empati. Tanpa kompas moral, kepintaran hanyalah pisau yang bisa melukai diri sendiri. Seorang siswa boleh pandai sejarah, tapi jika ia “kebablasan” pada gurunya, maka pinter itu sia-sia. Karena sejatinya, pendidikan karakter adalah rumah tempat semua ilmu bersemayam.
Budaya: Cerminan Rasa yang Hampir Punah
Jika moral adalah kompas, maka budaya adalah cermin. Di dalamnya ada adat, istiadat, bahasa, dan seni. Kang Wahyu menunjuk Sukamulya sebagai contoh. Di sana masih hidup dua denyut nadi budaya: Wayang Golek dan Seni Pencak.
Namun ia menghela napas. Kini, pentas kenaikan kelas lebih banyak menampilkan hal yang “modern”. Tarian tradisi, gamelan, seni lokal… semakin terpinggir. Padahal, dari sanalah lahir rasa. Rasa bijaksana, rasa adil, rasa memiliki. Tanpa digali dan ditampilkan, kearifan lokal itu akan menjadi dongeng yang dilupakan anak cucu. Pendidikan tanpa budaya, katanya, hanya akan melahirkan manusia yang “pinter, tapi kurang rasa”
Jalan Pulang: Kurikulum Budi Pekerti dan Kearifan Lokal
Lalu, bagaimana merajutnya kembali? Kang Wahyu menawarkan dua kunci sederhana tapi revolusioner.
Pertama, Masukkan ke Kurikulum. Bukan sebagai ekstrakurikuler yang sering terlewat, tapi sebagai “Kurikulum Budi Pekerti” dan “Kearifan Lokal” yang menjadi acuan utama. Sekolah seni seperti SMKI, ASTI, ISBI di Banten harus menjadi perintis, bukan pengecualian.
Kedua, Utamakan Kepribadian. Pendidikan harus melahirkan empati, etika, dan akhlak. Sebab jika tidak, kita hanya akan sibuk berurusan dengan hukum, narkotika, dan kerusakan moral lainnya. Sekolah harus menjadi tempat yang kondusif, tempat Brahma, tempat budi.
Seperti kata beliau: “Pendidikan dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan.” Pintar saja tidak cukup. Yang harus dibangun adalah rasa.
Titip Pesan untuk Esok
Pada akhirnya, esai ini bukan soal menyalahkan sistem. Ini adalah titipan rindu. Rindu pada generasi yang tidak hanya canggih teknologinya, tapi juga lembut hatinya. Generasi yang tahu kapan harus bercanda, dan kapan harus menunduk hormat.
Kang Wahyu menutup dengan salam. Tapi pesannya menggema: Mari kita pulang. Pulang ke budaya. Pulang ke budi.
Sebab peradaban yang besar tidak diukur dari seberapa tinggi gedung sekolahnya, melainkan dari seberapa dalam budi pekerti yang diajarkannya. Dan mungkin, esai berikutnya akan bertanya.






