Kambing vs Ayam: Mana Lebih Aman untuk Kolesterol? Ini Fakta Ilmiahnya

- Penulis

Minggu, 19 April 2026 - 13:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

 

Cakrabanten.id,- Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat, perbandingan kandungan kolesterol antara daging kambing dan ayam kembali menjadi sorotan. Selama ini, daging kambing kerap dianggap sebagai “biang” kolesterol tinggi. Namun, data ilmiah justru menunjukkan gambaran yang lebih berimbang—bahkan cenderung mematahkan anggapan tersebut.

 

Berdasarkan data USDA National Nutrient Database, kadar kolesterol dalam daging kambing dan ayam tanpa kulit sebenarnya tidak terpaut jauh. Dalam setiap 100 gram sajian, daging kambing mengandung sekitar 60 mg kolesterol total, sementara daging ayam sedikit lebih tinggi, yakni 73 mg.

 

Perbedaan yang lebih signifikan justru terletak pada komposisi lemak jenuh. Daging kambing diketahui memiliki kadar lemak jenuh yang relatif lebih rendah dibandingkan ayam. Lemak jenuh sendiri berperan dalam meningkatkan kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) atau yang dikenal sebagai “kolesterol jahat”.

 

Secara rinci, kandungan LDL pada daging kambing tercatat sekitar 37 mg per 100 gram, sedikit lebih rendah dibandingkan ayam yang mencapai 38 mg. Sementara itu, untuk kolesterol HDL (high-density lipoprotein) atau “kolesterol baik”, daging kambing unggul dengan 17 mg, dibandingkan ayam yang berada di angka 14 mg.

 

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa angka-angka tersebut bukan satu-satunya faktor penentu risiko kesehatan. Kandungan kolesterol dalam daging sangat dipengaruhi oleh bagian daging yang dikonsumsi serta metode pengolahannya.

 

Bagian daging yang berlemak tentu mengandung kolesterol lebih tinggi. Oleh karena itu, masyarakat disarankan memilih potongan daging rendah lemak (lean), seperti paha atas atau bagian sirloin. Selain itu, teknik memasak juga memainkan peran krusial. Menggoreng dengan minyak berlebih dapat meningkatkan kadar lemak, sementara metode seperti merebus, memanggang, atau menumis dengan sedikit minyak dinilai lebih sehat.

 

Menariknya, metode marinasi menggunakan bahan alami seperti lemon atau cuka juga disebut dapat membantu mengurangi penyerapan lemak dalam tubuh. Fakta ini masih jarang diketahui publik, namun mulai mendapat perhatian dalam praktik kuliner sehat.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sendiri merekomendasikan konsumsi daging merah dalam jumlah terbatas, yakni maksimal 50 gram per hari, guna menjaga keseimbangan nutrisi dan mencegah lonjakan kolesterol.

 

Di sisi lain, daging kambing tetap memiliki nilai gizi penting. Kandungan protein, zat besi, serta vitamin B12 di dalamnya berperan dalam mendukung kesehatan tubuh, terutama dalam pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.

 

Kesimpulannya, daging kambing tidak selalu lebih berisiko dibandingkan ayam dalam hal kolesterol. Dengan pemilihan bagian daging yang tepat, metode memasak yang sehat, serta porsi konsumsi yang terkontrol, masyarakat tetap dapat menikmati hidangan daging tanpa harus mengorbankan kesehatan.

 

Bagi individu dengan riwayat kolesterol tinggi, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi tetap menjadi langkah bijak sebelum mengonsumsi daging secara rutin. Bijak memilih dan mengolah makanan menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan, tanpa harus melewatkan momen kebersamaan, termasuk saat perayaan hari besar seperti Idul Adha.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel cakrabanten.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 13:22 WIB

Kambing vs Ayam: Mana Lebih Aman untuk Kolesterol? Ini Fakta Ilmiahnya

Berita Terbaru