Harga Tepung Terigu Naik, Pedagang Gorengan di Cianjur Terjepit
CIANJUR,- Kenaikan harga tepung terigu mulai menekan pelaku usaha kecil di Kabupaten Cianjur. Pedagang gorengan mengaku harus menanggung kenaikan biaya produksi di tengah kondisi penjualan yang justru sedang lesu.
Sejak awal November 2026, kenaikan harga sejumlah bahan baku, termasuk tepung terigu dan tapioka, dikeluhkan pedagang. Situasi ini semakin memberatkan karena harga bahan pendukung seperti minyak goreng dan gula juga turut memengaruhi biaya produksi.
Di sejumlah pasar, harga tepung terigu bervariasi, mulai Rp10.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Sementara tepung tapioka berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp20.000 per kilogram, bergantung pada jenis dan lokasi penjualan.
Kondisi tersebut membuat pedagang gorengan harus mencari cara agar tetap bisa bertahan tanpa kehilangan pelanggan. Sebagian pedagang bahkan memilih mengecilkan ukuran gorengan demi menekan biaya produksi.
Namun, strategi itu tidak dilakukan Iis, pedagang gorengan di Kampung Kebon Tiwu, Desa Sukagalih, Kecamatan Cikalongkulon, Cianjur.
Kepada Cakra Banten, Sabtu (8/11/2026), Iis mengatakan harga tepung terigu yang biasa dibelinya kini mencapai Rp10.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 7.500
“Rp10 ribu sekarang, biasanya Rp 7.500,” ujar Iis.
Meski harga bahan baku meningkat, Iis mengaku tetap mempertahankan ukuran gorengannya. Konsekuensinya, keuntungan yang diperoleh semakin tergerus karena biaya produksi bertambah, sementara harga jual tidak mengalami perubahan.
Tekanan semakin terasa lantaran jumlah pembeli belakangan ini mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat ruang keuntungan pedagang semakin sempit.
Iis mengaku tidak mudah menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang belum membaik. Ia khawatir kenaikan harga justru membuat pelanggan semakin berkurang.
Ia berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi harga bahan pokok yang menjadi kebutuhan pelaku UMKM, khususnya pedagang kecil.
“Kami berharap harganya bisa segera turun. Pemerintah dan pemangku kebijakan ayo cepat bertindak, supaya kami pedagang UMKM tidak terlalu terdampak. Setidaknya kami masih bisa mendapatkan keuntungan dan tidak sampai merugi,” katanya.
Menurut Iis, mempertahankan usaha kecil saat ini bukan perkara mudah. Ketika harga bahan baku terus meningkat, sementara pembeli semakin menurun, pedagang harus berjuang lebih keras agar tetap bisa menjalankan usahanya. (NBL)






